Senin, 01 Desember 2014

Siapkah kita Menjadi Al-Ummu Madrosatul Ula'?

            Rasanya baru kemarin saja kita menjadi seorang istri. Masih terngiang jelas diingatan suara ijab qabul yang diucapkan suami di depan penghulu dan wali kita dengan lantang, yang membuat dada berdesir. Luapan kegembiraan dan keharuan tergambar jelas dari raut kita. Selanjutnya tahapan demi tahapan kehidupan kita lalui berdua dengan suami. Melewati suka cita pernikahan. ah, rasanya saat itu yang ada hanya bahagia saja.
            Selanjutnya, tanpa terasa kebesaran Ilahi sudah kita rasakan. Tak lama lagi kita akan menjadi seorang ibu. Rasanya begitu indah jika menyebut kata ini “ibu”. Siapkah kita?ataukah hanya sekedar rasa bangga sebagai perempuan yang paripurna sebab sudah bisa merasakan detakan calon adek bayi yang tidak semua perempuan diberi kesempatan seperti ini? . Apa persiapan yang sudah kita lakukan menjelang gelar ibu yang sebentar lagi kita sandang? Apakah hanya sekedar hunting  popok, baju, celana, minyak telon, bedong bayi, kaus kaki, dan lain sebagainya sebagai persiapan menunggu kelahiran si adek?
Al-ummu madrosatul ula’, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq. Demikian bunyi sebuah syair arab. Artinya; ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Bayi itu terlahir suci tak bernoda bagai kertas putih yang siap diberi warna. Dari tangan ibu lah yang akan membantunya menorehkan warna dalam kehidupan nya.  Sekolah pertama ini yang akan menentukan nasib anak-anak kita ke depan. Sudahkah kita memiliki bekal itu?
            Masih teringat jelas berita yang sempat ramai di media tentang kasus anak SD yang membunuh temannya karena si korban mencuri telpon seluler milik pelaku. Yang lebih ironis lagi pelaku membuang mayat temannya di got. Bayangkan, anak kecil yang belum mencapai usia remaja sudah bisa bahkan tergolong berani melakukan ini.  Tempo hari juga diberitakan media online bahkan videonya beredar luas tentang bocah SD laki-laki yang memukuli, menendang, meninju teman kelasnya yang perempuan. Ironisnya lagi hal ini disaksikan oleh teman-temannya yang lain tanpa ada yang berani menolong bocah perempuan berjilbab itu. Belum lagi anak-anak yang  senang memaki, berteriak, bicara kotor  atau vulgar. Masih banyak lagi kejadian nyata tentang kekerasan fisik maupun verbal yang dilakukan oleh anak di bawah umur. Fenomena apa ini? Siapa yang mesti disalahkan? Orang tua atau guru mereka?.  Akankah kita biarkan anak-anak kita kelak menjadi korban atau bahkan siapa sangka kelak akan menjadi pelaku kekerasan? Naudzubillah.. membayangkan saja serasa tak mampu.
            Anak adalah peniru yang ulung. Inilah yang ingin saya sampaikan kepada perempuan-perempuan yang akan menjadi ibu, atau bahkan sudah menjadi ibu. Olehnya, berilah contoh dan perilaku yang baik dalam keluarga. Sebab, keluarga adalah orang yang pertama kali akan bersentuhan dan berhubungan langsung dengan kehidupan sang anak. Disinilah peran Ibu sangat dibutuhkan.  Ajarilah anak kita tentang berbagai hal yang positif untuk bekalnya kelak. Sebelum mengenal dunia luar, berikan pemahaman dan bekali dengan pengetahuan yang cukup tentang perilaku, tata krama, perasaan, serta ajarkan padanya bagaimana menyikapi lingkungan di luar sana yang terkadang berbeda dengan yang selama ini dikenal. Karena kebanyakan anak, ketika sudah bisa mengenal dunia luar  mereka seolah kebablasan dan mengikuti apa saja yang dilihatnya.
            Tugas ibu tidaklah mudah.  Karenanya Allah SWT sudah menyiapkan pahala besar bagi seorang Ibu yang berhasil mendidik anak-anaknya dengan baik. Olehnya sejak dini sebelum menjadi seorang ibu, banyak hal yang harus dipersiapkan secara mental dan pengetahuan. Jangan kita mengandalkan orang tua kita yang masih hidup untuk mengurusi anak kita. Ali bin Abi Thalib, kw mengatakan, “ didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya”. Hal ini benar adanya, mengingat sekarang ini serbuan modernisasi dan sikap hidup hedonism yang merajalela yang akan menenggelamkan siapa saja yang tidak memiliki bekal hidup yang kuat. Apakah kita akan menyerahkan kepada babysitter untuk merawat dan mendidik anak kita?. Bukan..bukan itu yang akan memenuhi bekal anak kita ke depan.
            Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi al-ummu madrosatul ula. Contohnya dengan mengikuti kelas parenting, membaca buku-buku parenting, atau browsing di internet.  Bunda, dari semua usaha tersebut, ada yang jauh lebih penting yang harus kita ajarkan pada anak-anak kita; pemahaman agama. Ya..pemahaman agama yang baik akan menciptakan anak-anak yang siap menghadapi  pergolakan zaman untuk menjadi pemenang.  
Penuhilah hidupnya dengan karakter serta pemikiran yang baik. Ajarilah anak kita agar menjadi anak yang shalih sebab  anak yang shalih adalah investasi bagi kedua orangtuanya. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya dalah manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar, keras, lagi tidak mendurhakai Allah terhadap apa  yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (At-Tahrim:6)
            Pada akhirnya kita semua tahu, bahwa anak adalah titipan dan amanah, karenanya setiap orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas titipan yang diamanahkan. “setiap kalian adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang pertanggung jawabannya” (H.R Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan Ibunu Umar). Kepada orang tua, mendidik anak tidaklah berhenti sampai di sini. Tidaklah cukup mengantarkan anak meraih kesuksesan dunia, tetapi jauh lebih penting adalah meraih kesuksesan akhirat.
Subhanallah..betapa mulia tugas seorang ibu. Mari kita persiapkan diri menjadi Al-Ummu madrosatul Ula.