Dewasa
ini, fenomena jilbab tengah menjadi tren bagi perempuan. Tengok saja di sekitar
kita, dalam sehari ini berapa kali kita menjumpai gadis-gadis berbusana
muslimah nan modis. Tidak hanya ibu-ibu, tapi remaja putri. Tidak hanya
pejabat, pekerja swasta, pegawai pemerintahan, artis, bahkan ABG (anak baru
gede) tengah “panas-panas” nya
mengikuti tren jilbab ini. Tak ayal lagi, bisnis-bisnis busana muslimah dari
pusat-pusat perbelanjaan sampai yang online
kian semarak bak cendawan di musim hujan. Pedagang ataupun pengusaha busana
muslimah meraup untung yang tidak sedikit, bahkan omzet mereka bisa sampai
berlipat-lipat.
Melihat
fenomena tersebut, sekitar tahun 2012 muncul suatu komunitas yang menamakan
dirinya HIJABERS, yaitu sekelompok muslimah yang terdiri dari desainer atau
perancang, produsen, marketing, dan konsumen busana muslimah. Komunitas ini
menggeser kedudukan komunitas jilbaber yang terkenal sekitar tahun 2000-an
(masih ingat jaman baheula? Hehe). Komunitas hijabers ini muncul dengan
menampilkan beragam macam dan cara berbusana muslimah yang modis, fresh, lebih gaya, dan lengkap dengan
aksesorisnya. Karena begitu tren nya, tiap daerah hampir mempunyai komunitas
hijabers. Mereka pun mengenalkan cara berhijab yang modis, penuh warna, lebih fresh dan gaul. Bahkan, mereka pun
mengenalkan term baru dalam dunia
hijab yaitu hijab for work yang lebih
menekankan bahwa hijab layak dijadikan fashion untuk kerja. Tak hanya itu,
komunitas ini juga kerap kali mengadakan pelatihan-pelatihan yang melibatkan
ibu-ibu dan remaja putri tentang cara berhijab yang lebih modis sampai pada
pemberian tutorial cara berhijab. Tak bisa dipungkiri, komunitas ini bisa
dikatakan sebagai penggagas penggunaan jilbab dan busana muslim yang gaya,
tren, cantik, dan segar sehingga diminati oleh kawula muda yang senang dengan
mode.
Maraknya
dorongan untuk berhijab, lambat laun menghilangkan statement negatif bahwa mengenakan jilbab itu kuno, katrok, tidak
modis, dan tidak gaul. Dan, tidak bisa dipungkiri bahwa semua ini ada peran
komunitas hijabers di dalamnya. Mereka muncul di berbagai media elektronik
maupun media cetak sampai ke social media
yang menyuguhkan model hijab lengkap dengan tutorial mengenakan jilbab nya.
Semuanya bebas meniru bahkan mengunduh tutorialnya. Dan bagi saya, ini
merupakan suatu lompatan besar dalam dunia berhijab. Terlepas dari omongan
sindiran yang mengatakan mereka berjilbab belum sesuai syariat atau jilbab
syar’i. dalam kasus ini, kita selayaknya memberikan apresiasi. Bisa jadi, ini
merupakan suatu lompatan besar dalam hidupnya memilih untuk mengenakan hijab
meskipun belum sesuai syariat. Saya teringat dengan kasus seorang hijabers yang
memutuskan untuk berhijab, tapi ditentang oleh keluarganya, bahkan jilbabnya
semuanya dibuang. Lalu apakah hal ini menyurutkan langkahnya untuk tetap
konsisten dengan mengenakan jilbab? Tidak sama sekali. Dia bahkan menggunakan
potongan seprai sebagai jilbabnya.
Hijabers,
dimana pun selalu diperbincangkan. Dari yang menyukai dan respek dengan gaya
berhijab mereka, sampai yang mencemooh bahkan mencela. Pernah sekali saya
mendengarkan keluhan seorang teman yang kurang menyukai dengan gaya berhijab
perempuan sekarang, tidak syar’I lah, norak lah, seperti tumpukan jemuran di
atas kepala, warna hijab yang “tabrak lari”, bahkan dikatakan seperti kerudung
pemain film jaman dulu Mak wo’ (masih ingat? hehe). saya hanya tersenyum geli
mendengarnya. Bagi saya, bagaimana pun, menutup aurat jauh lebih penting
dibanding tidak sama sekali. Nah,
seringkali kekurangan pemahaman orang yang sudah lama berhijab membuat mereka
menjadi eksklusif. Padahal hijabers yang baru menggunakan jilbab perlu dukungan
dari teman-teman yang ada di lingkungannya. Seringkali kita berpikir, muslimah
kok berhijab belum menutup dada, berpakaian ketat dan tipis dan lain sebagainya
atau ucapan “itu menutup aurat atau membungkus aurat sih?”. Sekali lagi, tugas
kita untuk mendukung dan menghargai perubahan besar yang telah mereka lakukan.
Minimal, mereka sudah memiliki kemauan untuk berhijab, terlepas dari jilbab
yang mereka kenakan; jilbab lilit, jilbab tumpuk, jilbab miring, dan lain
sebagainya. Kita jalin kedekatan dengan mereka, sambil memberikan pemahaman,
dan mendoakan mereka semoga jilbab yang mereka kenakan bisa berubah ke jilbab
yang sesuai syariat. Insya Allah.
Bagi
saya, kita harus bisa memahami dan memaklumi orang lain yang masih mengenakan
jilbab modis (belum sesuai syariat) ketimbang harus mencela dan mencibir.
Biarkanlah mereka sedang menjalani prosesnya masing-masing. Alangkah lebih
baik, jika kita memperbaiki diri kita sendiri dan memberikan contoh yang baik
kepada mereka. bagi saya, boleh memaklumi orang lain, tapi tidak untuk diri
sendiri. Hijab itu untuk ALLAH SWT, maka mari kita menyempurnakan ketaatan kita
kepada-Nya.
Sekarang,
bukan saatnya muslimah yang berjilbab modis dan muslimah yang berjilbab syar’I
untuk saling meledek bahkan saling mencela. jangan memperdebatkan masalah
panjang pendeknya jilbab yang kita kenakan. Saya teringat dengan pernyataan
Ustadzah Lulung yang mengatakan bahwa “Jauh lebih penting bagi kita untuk
mengaji bersama, menuntut ilmu bersama-sama, dan berproses bersama ke pemahaman
yang benar tentang agama kita, hingga saatnya nanti kita akan sampai pada
pemahaman dan perubahan yang benar.”
Belum
surut perbincangan mengenai fenomena hijabers, sekitar pertengahan tahun 2013
mulailah muncul komunitas serupa yang menamakan dirinya HIJASy. Mereka terdiri
dari para perempuan yang mengenakan jilbab syar’I atau sesuai syariat.
Perlahan-lahan gaung komunitas ini menggeser gaung komunitas hijabers yang
fenomenal. Meskipun belum semua wilayah di Indonesia yang membentuk komunitas
ini. Komunitas hijasy ini mulai memperkenalkan jilbab yang sesuai syariat tanpa
meninggalkan kesan modis. Kalau komunitas hijabers banyak berkiblat pada
perancang busana muslimah yang trendi; Dian pelangi, komunitas hijasy ini
kiblatnya pada artis dan penulis buku; okki setiana dewi. Busananya pun mulai
”meramaikan” pusat-pusat perbelanjaan dan online shop (olshop)
Lantas
seperti apakah jilbab yang sesuai syariat itu?. Berikut ini kutipan dari ustadz
Felix Siauw dalam bukunya “yuk berhijab!”. Hijab berasal dari kata hajaban yang
artinya menutupi, dengan kata lain al-hijab adalah benda yang menutupi sesuatu,
menurut Al-jurjani dalam kitabnya At-ta’rifat mendefinisikan al-hijab adalah
sesuatu yang terhalang dari pencarian kita. Menurut istilah syara’, al-hijab
adalah suatu tabir yang menutupi seluruh anggota tubuh wanita kecuali wajah dan
telapak tangan dari penglihatan orang lain. Hal ini untuk menghindari fitnah
dikarenakan bahwa dari ujung rambut sampai ke ujung kaki wanita adalah aurat
kecuali wajah dan telapak tangan.
Mengenai
aurat wanita muslimah, sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud
dari sayyidah Aisyah RA. Sayyidah Aisyah RA meriwayatkan, suatu waktu Asma
binti Abu bakar datang menemui Rasulullah SAW dengan pakaian tipis. Tatkala
melihatnya, Rasulullah SAW memalingkan wajahnya dari Asma, lalu bersabda,”wahai
Asma, sesungguhnya wanita apabila sudah baligh, tidak boleh dilihat darinya
kecuali ini dan ini”. Beliau menunjuk ke muka dan telapak tangan.
Perintah
ALLAH SWT untuk mengenakan jilbab ini juga difirmankan dalam kitab-Nya yang
mulia,”hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mukim; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh
tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena
itu mereka tidak diganggu. Dan ALLAH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
(Al-Ahzab:59). Dari firman ALLAH tersebut di atas, sudah sangat jelas, bahwa
perintah untuk berhijab itu wajib hukumnya. Lantas masihkah kita meragukan
perintah ALLAH yang satu ini? Jawabannya ada di hati kita para muslimah.
“ada
dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu suatu kaum
yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia, dan para wanita
yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak lenggok, kepala mereka seperti
punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak
akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”
(HR Muslim). Periwayatan ini sudah sangat jelas perintah ALLAH untuk berhijab
yakni tidak berpakaian yang ketat yang menyebabkan para muslimah seperti
berpakaian tetapi telanjang. Dari riwayat tersebut di atas juga menjelaskan
tentang kepala seperti punuk unta yang miring. Imam Qurthubi dan Imam nawawi
berpendapat bahwa maksud dari ungkapan kepala seperti punuk unta yang miring
adalah muslimah yang memilin atau menumpuk rambutnya ke atas hingga terlihat
seperti punuk unta atau muslimah yang membesarkan kepala dengan kerudung atau
selempang yang ditumpuk di atas kepala hingga menyerupai punuk unta.
Sebagai
muslimah yang baik, saat mendengarkan perintah Rasulullah SAW untuk berpakaian
syar’i, jawabannya adalah “kami dengar dan kami taat”.
Duhai
muslimah, engkau diciptakan begitu indah. Akankah kita membiarkan keindahan
yang kita miliki kita pamer sehingga mengurangi keindahan kita?. Jawabannya ada
dalam hati kita masing-masing. Akankah kita segera hijrah FROM HIJABERS TO HIJASy? Sekali lagi, jawabannya ada dalam sanubari
kita sebagai muslimah yang taat pada perintah-Nya.
Wallahu ‘alambisshawab