Rasanya
baru kemarin saja kita menjadi seorang istri. Masih terngiang jelas diingatan
suara ijab qabul yang diucapkan suami di depan penghulu dan wali kita dengan
lantang, yang membuat dada berdesir. Luapan kegembiraan dan keharuan tergambar
jelas dari raut kita. Selanjutnya tahapan demi tahapan kehidupan kita lalui
berdua dengan suami. Melewati suka cita pernikahan. ah, rasanya saat itu yang
ada hanya bahagia saja.
Selanjutnya,
tanpa terasa kebesaran Ilahi sudah kita rasakan. Tak lama lagi kita akan
menjadi seorang ibu. Rasanya begitu indah jika menyebut kata ini “ibu”. Siapkah
kita?ataukah hanya sekedar rasa bangga sebagai perempuan yang paripurna sebab sudah
bisa merasakan detakan calon adek
bayi yang tidak semua perempuan diberi kesempatan seperti ini? . Apa persiapan
yang sudah kita lakukan menjelang gelar ibu yang sebentar lagi kita sandang?
Apakah hanya sekedar hunting popok,
baju, celana, minyak telon, bedong bayi, kaus kaki, dan lain sebagainya sebagai
persiapan menunggu kelahiran si adek?
Al-ummu
madrosatul ula’, iza
a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq. Demikian bunyi sebuah syair arab.
Artinya; ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau
telah mempersiapkan generasi terbaik. Bayi itu terlahir suci tak bernoda bagai
kertas putih yang siap diberi warna. Dari tangan ibu lah yang akan membantunya
menorehkan warna dalam kehidupan nya.
Sekolah pertama ini yang akan menentukan nasib anak-anak kita ke depan.
Sudahkah kita memiliki bekal itu?
Masih
teringat jelas berita yang sempat ramai di media tentang kasus anak SD yang
membunuh temannya karena si korban mencuri telpon seluler milik pelaku. Yang
lebih ironis lagi pelaku membuang mayat temannya di got. Bayangkan, anak kecil
yang belum mencapai usia remaja sudah bisa bahkan tergolong berani melakukan
ini. Tempo hari juga diberitakan media online bahkan videonya beredar luas tentang
bocah SD laki-laki yang memukuli, menendang, meninju teman kelasnya yang perempuan.
Ironisnya lagi hal ini disaksikan oleh teman-temannya yang lain tanpa ada yang
berani menolong bocah perempuan berjilbab itu. Belum lagi anak-anak yang senang memaki, berteriak, bicara kotor atau vulgar.
Masih banyak lagi kejadian nyata tentang kekerasan fisik maupun verbal yang
dilakukan oleh anak di bawah umur. Fenomena apa ini? Siapa yang mesti
disalahkan? Orang tua atau guru mereka?. Akankah kita biarkan anak-anak kita kelak
menjadi korban atau bahkan siapa sangka kelak akan menjadi pelaku kekerasan?
Naudzubillah.. membayangkan saja serasa tak mampu.
Anak adalah
peniru yang ulung. Inilah yang ingin saya sampaikan kepada perempuan-perempuan
yang akan menjadi ibu, atau bahkan sudah menjadi ibu. Olehnya, berilah contoh
dan perilaku yang baik dalam keluarga. Sebab, keluarga adalah orang yang
pertama kali akan bersentuhan dan berhubungan langsung dengan kehidupan sang
anak. Disinilah peran Ibu sangat dibutuhkan.
Ajarilah anak kita tentang berbagai hal yang positif untuk bekalnya
kelak. Sebelum mengenal dunia luar, berikan pemahaman dan bekali dengan
pengetahuan yang cukup tentang perilaku, tata krama, perasaan, serta ajarkan
padanya bagaimana menyikapi lingkungan di luar sana yang terkadang berbeda
dengan yang selama ini dikenal. Karena kebanyakan anak, ketika sudah bisa
mengenal dunia luar mereka seolah kebablasan dan mengikuti apa saja yang
dilihatnya.
Tugas ibu
tidaklah mudah. Karenanya Allah SWT
sudah menyiapkan pahala besar bagi seorang Ibu yang berhasil mendidik
anak-anaknya dengan baik. Olehnya sejak dini sebelum menjadi seorang ibu,
banyak hal yang harus dipersiapkan secara mental dan pengetahuan. Jangan kita
mengandalkan orang tua kita yang masih hidup untuk mengurusi anak kita. Ali bin
Abi Thalib, kw mengatakan, “ didiklah anak-anakmu sesuai dengan
zamannya”. Hal ini benar adanya, mengingat sekarang ini serbuan modernisasi
dan sikap hidup hedonism yang merajalela yang akan menenggelamkan siapa saja
yang tidak memiliki bekal hidup yang kuat. Apakah kita akan menyerahkan kepada babysitter untuk merawat dan mendidik anak
kita?. Bukan..bukan itu yang akan memenuhi bekal anak kita ke depan.
Ada banyak
hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi al-ummu
madrosatul ula. Contohnya dengan mengikuti kelas parenting, membaca buku-buku parenting,
atau browsing di internet. Bunda, dari semua usaha tersebut, ada yang
jauh lebih penting yang harus kita ajarkan pada anak-anak kita; pemahaman agama.
Ya..pemahaman agama yang baik akan menciptakan anak-anak yang siap
menghadapi pergolakan zaman untuk menjadi
pemenang.
Penuhilah hidupnya dengan
karakter serta pemikiran yang baik. Ajarilah anak kita agar menjadi anak yang
shalih sebab anak yang shalih adalah
investasi bagi kedua orangtuanya. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya dalah manusia dan
batu, penjaganya malaikat yang kasar, keras, lagi tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkanNya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (At-Tahrim:6)
Pada
akhirnya kita semua tahu, bahwa anak adalah titipan dan amanah, karenanya
setiap orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas titipan yang
diamanahkan. “setiap kalian adalah
pemimpin, dan akan ditanya tentang pertanggung jawabannya” (H.R Ahmad,
Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan Ibunu Umar). Kepada orang tua, mendidik
anak tidaklah berhenti sampai di sini. Tidaklah cukup mengantarkan anak meraih
kesuksesan dunia, tetapi jauh lebih penting adalah meraih kesuksesan akhirat.
Subhanallah..betapa mulia tugas
seorang ibu. Mari kita persiapkan diri menjadi Al-Ummu madrosatul Ula.


