Sabtu, 15 November 2014

From Hijabers to Hijasy



                Dewasa ini, fenomena jilbab tengah menjadi tren bagi perempuan. Tengok saja di sekitar kita, dalam sehari ini berapa kali kita menjumpai gadis-gadis berbusana muslimah nan modis. Tidak hanya ibu-ibu, tapi remaja putri. Tidak hanya pejabat, pekerja swasta, pegawai pemerintahan, artis, bahkan ABG (anak baru gede) tengah “panas-panas” nya mengikuti tren jilbab ini. Tak ayal lagi, bisnis-bisnis busana muslimah dari pusat-pusat perbelanjaan sampai yang online kian semarak bak cendawan di musim hujan. Pedagang ataupun pengusaha busana muslimah meraup untung yang tidak sedikit, bahkan omzet mereka bisa sampai berlipat-lipat.
                Melihat fenomena tersebut, sekitar tahun 2012 muncul suatu komunitas yang menamakan dirinya HIJABERS, yaitu sekelompok muslimah yang terdiri dari desainer atau perancang, produsen, marketing, dan konsumen busana muslimah. Komunitas ini menggeser kedudukan komunitas jilbaber yang terkenal sekitar tahun 2000-an (masih ingat jaman baheula? Hehe). Komunitas hijabers ini muncul dengan menampilkan beragam macam dan cara berbusana muslimah yang modis, fresh, lebih gaya, dan lengkap dengan aksesorisnya. Karena begitu tren nya, tiap daerah hampir mempunyai komunitas hijabers. Mereka pun mengenalkan cara berhijab yang modis, penuh warna, lebih fresh dan gaul. Bahkan, mereka pun mengenalkan term baru dalam dunia hijab yaitu hijab for work yang lebih menekankan bahwa hijab layak dijadikan fashion untuk kerja. Tak hanya itu, komunitas ini juga kerap kali mengadakan pelatihan-pelatihan yang melibatkan ibu-ibu dan remaja putri tentang cara berhijab yang lebih modis sampai pada pemberian tutorial cara berhijab. Tak bisa dipungkiri, komunitas ini bisa dikatakan sebagai penggagas penggunaan jilbab dan busana muslim yang gaya, tren, cantik, dan segar sehingga diminati oleh kawula muda yang senang dengan mode.
                Maraknya dorongan untuk berhijab, lambat laun menghilangkan statement negatif bahwa mengenakan jilbab itu kuno, katrok, tidak modis, dan tidak gaul. Dan, tidak bisa dipungkiri bahwa semua ini ada peran komunitas hijabers di dalamnya. Mereka muncul di berbagai media elektronik maupun media cetak sampai ke social media yang menyuguhkan model hijab lengkap dengan tutorial mengenakan jilbab nya. Semuanya bebas meniru bahkan mengunduh tutorialnya. Dan bagi saya, ini merupakan suatu lompatan besar dalam dunia berhijab. Terlepas dari omongan sindiran yang mengatakan mereka berjilbab belum sesuai syariat atau jilbab syar’i. dalam kasus ini, kita selayaknya memberikan apresiasi. Bisa jadi, ini merupakan suatu lompatan besar dalam hidupnya memilih untuk mengenakan hijab meskipun belum sesuai syariat. Saya teringat dengan kasus seorang hijabers yang memutuskan untuk berhijab, tapi ditentang oleh keluarganya, bahkan jilbabnya semuanya dibuang. Lalu apakah hal ini menyurutkan langkahnya untuk tetap konsisten dengan mengenakan jilbab? Tidak sama sekali. Dia bahkan menggunakan potongan seprai sebagai jilbabnya.  
                Hijabers, dimana pun selalu diperbincangkan. Dari yang menyukai dan respek dengan gaya berhijab mereka, sampai yang mencemooh bahkan mencela. Pernah sekali saya mendengarkan keluhan seorang teman yang kurang menyukai dengan gaya berhijab perempuan sekarang, tidak syar’I lah, norak lah, seperti tumpukan jemuran di atas kepala, warna hijab yang “tabrak lari”, bahkan dikatakan seperti kerudung pemain film jaman dulu Mak wo’ (masih ingat? hehe). saya hanya tersenyum geli mendengarnya. Bagi saya, bagaimana pun, menutup aurat jauh lebih penting dibanding tidak sama sekali. Nah, seringkali kekurangan pemahaman orang yang sudah lama berhijab membuat mereka menjadi eksklusif. Padahal hijabers yang baru menggunakan jilbab perlu dukungan dari teman-teman yang ada di lingkungannya. Seringkali kita berpikir, muslimah kok berhijab belum menutup dada, berpakaian ketat dan tipis dan lain sebagainya atau ucapan “itu menutup aurat atau membungkus aurat sih?”. Sekali lagi, tugas kita untuk mendukung dan menghargai perubahan besar yang telah mereka lakukan. Minimal, mereka sudah memiliki kemauan untuk berhijab, terlepas dari jilbab yang mereka kenakan; jilbab lilit, jilbab tumpuk, jilbab miring, dan lain sebagainya. Kita jalin kedekatan dengan mereka, sambil memberikan pemahaman, dan mendoakan mereka semoga jilbab yang mereka kenakan bisa berubah ke jilbab yang sesuai syariat. Insya Allah.
                Bagi saya, kita harus bisa memahami dan memaklumi orang lain yang masih mengenakan jilbab modis (belum sesuai syariat) ketimbang harus mencela dan mencibir. Biarkanlah mereka sedang menjalani prosesnya masing-masing. Alangkah lebih baik, jika kita memperbaiki diri kita sendiri dan memberikan contoh yang baik kepada mereka. bagi saya, boleh memaklumi orang lain, tapi tidak untuk diri sendiri. Hijab itu untuk ALLAH SWT, maka mari kita menyempurnakan ketaatan kita kepada-Nya.
                Sekarang, bukan saatnya muslimah yang berjilbab modis dan muslimah yang berjilbab syar’I untuk saling meledek bahkan saling mencela. jangan memperdebatkan masalah panjang pendeknya jilbab yang kita kenakan. Saya teringat dengan pernyataan Ustadzah Lulung yang mengatakan bahwa “Jauh lebih penting bagi kita untuk mengaji bersama, menuntut ilmu bersama-sama, dan berproses bersama ke pemahaman yang benar tentang agama kita, hingga saatnya nanti kita akan sampai pada pemahaman dan perubahan yang benar.”
                Belum surut perbincangan mengenai fenomena hijabers, sekitar pertengahan tahun 2013 mulailah muncul komunitas serupa yang menamakan dirinya HIJASy. Mereka terdiri dari para perempuan yang mengenakan jilbab syar’I atau sesuai syariat. Perlahan-lahan gaung komunitas ini menggeser gaung komunitas hijabers yang fenomenal. Meskipun belum semua wilayah di Indonesia yang membentuk komunitas ini. Komunitas hijasy ini mulai memperkenalkan jilbab yang sesuai syariat tanpa meninggalkan kesan modis. Kalau komunitas hijabers banyak berkiblat pada perancang busana muslimah yang trendi; Dian pelangi, komunitas hijasy ini kiblatnya pada artis dan penulis buku; okki setiana dewi. Busananya pun mulai ”meramaikan” pusat-pusat perbelanjaan dan online shop (olshop)
                Lantas seperti apakah jilbab yang sesuai syariat itu?. Berikut ini kutipan dari ustadz Felix Siauw dalam bukunya “yuk berhijab!”. Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, dengan kata lain al-hijab adalah benda yang menutupi sesuatu, menurut Al-jurjani dalam kitabnya At-ta’rifat mendefinisikan al-hijab adalah sesuatu yang terhalang dari pencarian kita. Menurut istilah syara’, al-hijab adalah suatu tabir yang menutupi seluruh anggota tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan dari penglihatan orang lain. Hal ini untuk menghindari fitnah dikarenakan bahwa dari ujung rambut sampai ke ujung kaki wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan.
                Mengenai aurat wanita muslimah, sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari sayyidah Aisyah RA. Sayyidah Aisyah RA meriwayatkan, suatu waktu Asma binti Abu bakar datang menemui Rasulullah SAW dengan pakaian tipis. Tatkala melihatnya, Rasulullah SAW memalingkan wajahnya dari Asma, lalu bersabda,”wahai Asma, sesungguhnya wanita apabila sudah baligh, tidak boleh dilihat darinya kecuali ini dan ini”. Beliau menunjuk ke muka dan telapak tangan.
                Perintah ALLAH SWT untuk mengenakan jilbab ini juga difirmankan dalam kitab-Nya yang mulia,”hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukim; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan ALLAH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Ahzab:59). Dari firman ALLAH tersebut di atas, sudah sangat jelas, bahwa perintah untuk berhijab itu wajib hukumnya. Lantas masihkah kita meragukan perintah ALLAH yang satu ini? Jawabannya ada di hati kita para muslimah.
                “ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia, dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR Muslim). Periwayatan ini sudah sangat jelas perintah ALLAH untuk berhijab yakni tidak berpakaian yang ketat yang menyebabkan para muslimah seperti berpakaian tetapi telanjang. Dari riwayat tersebut di atas juga menjelaskan tentang kepala seperti punuk unta yang miring. Imam Qurthubi dan Imam nawawi berpendapat bahwa maksud dari ungkapan kepala seperti punuk unta yang miring adalah muslimah yang memilin atau menumpuk rambutnya ke atas hingga terlihat seperti punuk unta atau muslimah yang membesarkan kepala dengan kerudung atau selempang yang ditumpuk di atas kepala hingga menyerupai punuk unta.
                Sebagai muslimah yang baik, saat mendengarkan perintah Rasulullah SAW untuk berpakaian syar’i, jawabannya adalah “kami dengar dan kami taat”.
                Duhai muslimah, engkau diciptakan begitu indah. Akankah kita membiarkan keindahan yang kita miliki kita pamer sehingga mengurangi keindahan kita?. Jawabannya ada dalam hati kita masing-masing. Akankah kita segera hijrah FROM HIJABERS TO HIJASy? Sekali lagi, jawabannya ada dalam sanubari kita sebagai muslimah yang taat pada perintah-Nya.
Wallahu ‘alambisshawab
               


Tidak ada komentar:

Posting Komentar